SITUASI DIGLOSIA PADA PENUTUR BAHASA NGAJU DI KECAMATAN KATINGAN TENGAH KABUPATEN KATINGAN KALTENG (DIGLOSIA SITUATION ON THE NGAJU LANGUAGE SPEAKERS IN KATINGAN REGENCY CENTRAL KATINGAN SUBDISTRICT OF CENTRAL KALIMANTAN)
Abstract
Situasi Diglosia pada Penutur Bahasa Ngaju di Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten
Katingan Kalteng. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahasa yang digunakan dan untuk
mengetahui situasi diglosia pada penutur bahasa Ngaju di Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten
Katingan Kalteng. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif,
dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah
observasi, wawancara, kepustakaan, teknik rekam/simak dan teknik catat. Data tentang diglosia
dilihat dari tujuh ranah, yakni ranah keluarga, ranah pergaulan, ranah transaksi jual beli, ranah
agama, ranah pemerintahan, ranah pendidikan, dan ranah profesi/pekerjaan. Selain itu juga, data
204
diperoleh dari pemilihan bahasa, seperti di editorial surat kabar, siaran berita, dan sastra rakyat.
Berdasarkan temuan penelitian menunjukan bahwa penutur bahasa Ngaju merupakan bilingual
dan multilingual. Hal ini terlihat dengan beragamnya bahasa yang digunakan dan penguasaan
dari masing-masing penutur bahasa Ngaju. Hasil penelitian berdasarkan ranah keluarga dan ranah
pergaulan dengan teman sesuku, menunjukan bahwa masih dominannya penutur menggunakan
bahasa Ngaju, dalam ranah transaksi jual beli, terlihat bahwa bahasa Banjar lebih dominan. Fungsi
bahasa Banjar sebagai bahasa transaksi jual beli di Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan.
Dalam ranah agama, khususnya kebaktian di Gereja terbentuk situasi triglosik (penggunaan bahasa
Ngaju dan bahasa Indonesia seimbang), sedangkan khotbah di Masjid lebih dominan menggunakan
bahasa Indonesia sebagai bahasa tinggi (T). Ranah pemerintahan, ranah pendidikan dan ranah
profesi, situasi diglosia yang terjadi adalah lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia sebagai
ragam bahasa tinggi (T), walaupun terjadi diglosia yang kurang mantap pada ranah pendidikan
yang dituturkan pelajar penutur Ngaju akibat penguasaan bahasa Indonesia yang masih kurang
mantap. Pemilihan bahasa yang digunakan dalam editorial surat kabar dan siaran berita menggunakan
bahasa Indonesia sebagai ragam bahasa tinggi (T), sedangkan sastra rakyat lebih dominan
menggunakan bahasa Ngaju (R) walaupun terdapat juga menggunakan bahasa Indonesia.
Kata-kata kunci: diglosia, ranah, bahasa ngaju
Full Text:
PDFReferences
Lambut, M.P 2008. Peta dan Pemetaan Bahasa-Bahasa Dayak di Kalimantan Tengah dan Bahasa-
Bahasa Dayak di Seluruh Borneo-Kalimantan. Makalah yang disajikan dalam Semiloka
Festival Adat Dayak Kalimantan. Palangka Raya.
Rokhman, Fathur. 2013. Sosiolinguistik, Suatu Pendekatan Pembelajaran Bahasa dalam Masyarakat
Multikultural. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sumarsono dan Partana, Paina. 2002. Sosiolinguistik. Yogyakarta: SABDA (Lembaga Studi
Agama, Budaya dan Perdamaian).
Refbacks
- There are currently no refbacks.

.png)
